Ruangan Makassar — Nasib Perempuan Pesisir Makassar Dua Dekade Alami Krisis Air Di balik hiruk pikuk pembangunan kota, ada kisah getir yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade di pesisir Makassar: krisis air bersih. Beban terbesar dari kondisi ini ditanggung perempuan, yang saban hari harus berjuang mendapatkan setetes demi setetes air untuk keluarganya.
baca juga:Cuaca Sulsel Hari Ini 28 September 2025: Siang-Sore Makassar, Maros, dan Gowa Hujan
Perempuan di Garda Terdepan
Di Kampung Pesisir Lakkang, setiap pagi sebelum matahari terbit, para ibu sudah berjalan jauh dengan jerigen kosong. Ada yang menumpang perahu kecil, ada yang harus menyeberang jalan ramai, hanya untuk sampai ke sumber air yang layak digunakan.
“Saya sudah biasa jalan dua kilometer lebih setiap hari. Kadang kalau telat, air sudah habis. Kalau beli, harganya bisa sampai Rp5.000 per jerigen,” kata Nurhayati, seorang ibu rumah tangga yang sudah 15 tahun tinggal di kawasan itu.
Dua Dekade Krisis yang Tak Kunjung Usai
Menurut warga, masalah air bersih sudah dirasakan sejak awal 2000-an. Sumur-sumur di sekitar pesisir payah menghasilkan air karena asin dan keruh. Upaya swadaya masyarakat membuat penampungan air hujan pun tak bisa diandalkan sepanjang tahun.
“Kalau musim kemarau, penderitaan semakin parah. Kami harus patungan untuk beli air galon, sementara penghasilan sehari-hari dari laut tidak menentu,” ujar Hasna, perempuan nelayan.
Dampak pada Kehidupan Sehari-hari
Krisis air ini tidak hanya soal kebutuhan minum, tetapi juga berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan rumah tangga. Perempuan harus membagi waktu antara mencari air dan mengurus anak, sementara para gadis seringkali terpaksa absen sekolah untuk membantu ibunya.
Data dari aktivis lokal mencatat, dalam sehari seorang perempuan bisa menghabiskan 3–4 jam hanya untuk urusan air. “Ini menambah beban ganda perempuan pesisir yang sudah memikul tanggung jawab ekonomi keluarga,” jelas Siti Aminah, pegiat lingkungan.
Janji Pemerintah yang Tertunda
Program penyambungan pipa hanya menjangkau sebagian kecil rumah, sementara sisanya tetap bergantung pada air beli.
“Air adalah hak dasar. Jika warga kota lain bisa mudah memutar keran, mengapa perempuan pesisir harus menderita bertahun-tahun?” tambah Siti.
Harapan Perubahan
Kini, warga pesisir Makassar masih menunggu langkah nyata dari pemerintah kota dan provinsi. Mereka berharap ada instalasi air bersih yang bisa menjangkau kampung-kampung pesisir, sehingga beban perempuan tak lagi sebesar hari ini.
“Kalau ada air bersih, hidup kami akan jauh lebih ringan. Anak-anak bisa sekolah dengan tenang, kami tidak perlu lagi begadang hanya untuk antre air,” kata Nurhayati sambil memandang jerigen kosong di samping rumahnya.
Penutup
Kisah perempuan pesisir Makassar adalah potret nyata ketidakadilan akses terhadap sumber daya dasar. Dua dekade krisis air telah mencetak generasi yang tumbuh dalam keterbatasan.

